Di Bawah Pohon Rindang

Oktober 1, 2009

oaktree

Matahari hampir tegak di atas ubun-ubun

Pohon besar itu berdiri tegak

Menjulang tinggi, besar dan rindang

Mengayomi sekitarnya dengan keteduhan

Tetapi tak ada seorangpun yang memanfaatkannya

Keteduhan yang sia-sia

 

Satu per satu manusia berdatangan

Duduk bersama di bawah dahan

Bercengkerama bersama dan bercanda

Membawa pergi kesepian yang ada

 

Sejenak awanpun menaungi langit

Menyebarkan kesejukan yang meneduhkan

Orangpun mulai meninggalkannya

Tak ada kelebihan lagi yang dipunyainya

Dan suasanapun sepi kembali

Tapi ia masih berdiri di sana

Maaf

Juni 1, 2009

Alangkah indahnya dunia bila kita hidup di dalam dunia yang tanpa dendam. Dunia di mana seseorang selalu dapat memaafkan orang lain yang bersalah kepadanya, tidak pernah memendam suatu perasaan yang sebenarnya membuat dirinya sendiri menderita karena terus-menerus memikirkan kesalahan yang telah diperbuat orang lain kepadanya. Melepaskan sesuatu yang dipendam akan membuat seseorang itu lebih nyaman dalam menjalani hidupnya. Bayangkan bila setiap hari seseorang hanya memikirkan kesalahan dan dosa orang lain yang terjadi secara tidak sengaja.

sorry-cover

Seorang penulis berkebangsaan Amerika pernah mengungkapan kalimat ini: “to err is human, to forgive, divine”. Ya, manusia adalah tempat segala khilaf dan dosa, namun untuk bisa memaafkan seseorang yang telah berbuat salah kepadanya, itu merupakan sutu hal yang mulia.
Ungkapan tersebut tidak lantas membuat kita lantas mudah berbuat salah terhadap orang lain atau mencari justifikasi atas perbuatan salah kita terhadap orang lain dengan alasan bahwa berbuat salah merupakan perbuatan yang manusiawi. Kesalahan yang patut dimaafkan adalah kesalahan yang diperbuat secara tidak sengaja.
Bila bisa saling memaafkan, buat apa saling membenci?
Bila memaafkan dapat menciptakan dunia yang lebih baik, maukah anda melakukannya?

“Katanya emansipasi, tapi disuruh geser meja aja nggak mau…”

April 21, 2009
Raden Ajeng Kartini

Raden Ajeng Kartini

21 April biasa diperingati oleh bangsa Indonesia sebagai Hari Kartini. Bagi yang kurang mengenal Kartini, beliau adalah seorang pahlawan wanita kelahiran Jepara, 21 April 1879 yang dikenal sebagai pejuang emansipasi wanita. Menurutnya, wanita layak duduk sederajat dengan pria. Berkat Kartini, wanita Indonesia saat ini bisa merasakan persamaan derajat dengan para pria.

Berbicara masalah emansipasi, ada suatu kejadian beberapa waktu waktu lalu yang cukup menggelitik. Waktu itu di kantor saya sedang diadakan pendekorasian ulang dan kami merombak ulang tata letak perabotan yang ada di kantor. Pada saat memindah-mindahkan meja, dua orang teman wanita saya meminta tolong saya untuk membantu menggeser sebuah meja. Meja itu tidak besar, saya mampu memindahkannya sendirian, jadi saya pikir mereka berdua tidak akan kesulitan memindahkannya, apalagi jaraknya hanya pendek saja. Aku menolaknya secara halus dengan alasan bahwa aku sendiri sedang menggotong sebuah meja. Mereka berusaha membujuk aku lagi, saya kembali menolaknya, dan akhirnya terucaplah kata-kata ini: “Katanya emansipasi wanita, tapi disuruh geser meja aja nggak mau…”.

Mendengar kata-kata itu mereka hanya diam dan merajuk. Terus terang kata-kata tersebut kuucapkan bukan untuk menghina atau memojokkan mereka, tetapi hanya sebagai gurauan. Mengingat kejadian tersebut, saya masih suka tersenyum.

Kejadian tadi juga mengingatkan saya pada suatu kejadian yang dialami oleh dosen saya. Waktu itu Pak Nico, sebut saja demikian, sedang melanjutkan studinya di Australia. Pada suatu kesempatan, beliau pulang agak larut dari perpustakaan dan menemukan mobilnya mogok di tempat parkir. Ia berusaha mencari bantuan, dan bantuan yang didapatkannya adalah seorang petugas keamanan wanita. Setelah mereka tidak berhasil mengutak-atik mobil tersebut selama beberapa saat, mereka akhirnya sepakat untuk mendorong mobil tersebut. Pak Nico, yang berusaha bersikap layaknya seorang laki-laki, mempersilakan wanita tersebut untuk memegang kemudi dan membiarkan dirinya mendorong mobil tersebut. Tawarannya langsung ditolak mentah-mentah oleh wanita tersebut.

“Tidak,” jawabnya, “ini adalah mobilmu, maka kamulah yang seharusnya memegang kemudi, biarkan saya mendorongnya.” Akhirnya Pak Nico menuruti perkataannya. Dari situ beliau sadar, bahwa di Australia, menganggap wanita lebih lemah merupakan suatu pelecehan/harrasment. Wanita tidak mau dianggap lebih lemah dari pria, meskipun itu dalam hal melakukan pekerjaan berat/kasar.

Dari kedua kejadian tersebut saya ingin mencoba membandingkan emansipasi wanita di Indonesia dan di luar negeri. Di luar negeri, emansipasi memang bertujuan menjadikan wanita sederajat dengan pria di segala bidang, baik itu pendidikan, militer, pemerintahan, agama , dan masih banyak lagi, tanpa mengingkari kodrat mereka sebagai seorang wanita. Di Indonesia, menurut pendapat saya, emansipasi masih setengah hati. Wanita memang menginginkan emansipasi namun wanita masih sering menempatkan dirinya di bawah wanita dan sering pula wanita berapologi bahwa dirinya lebih lemah dan berada di bawah pria. Tapi kalau boleh saya ambil contoh yang baik mengenai emansipasi wanita, yaitu ibu saya. Selepas ayah saya meninggal, beliau memang benar-benar mengambil posisi ayah saya, termasih di dalamnya mencari nafkah untuk keluarga, mengecat pagar, memperbaiki pintu, dan urusan pria lainnya sampai saya mampu melakukannya.

Melihat kenyataan di atas, saya jadi bingung sebenarnya emansipasi seperti apakah yang sebenarnya diinginkan oleh wanita Indonesia? Apa definisi mereka mengenai emansipasi? Itu masih menjadi sebuah tanda tanya bagi saya.

10 Maret 2009

Maret 10, 2009

Kenyamananku dalam menikmati makanan dan minuman agak sedikit terganggu sejak semalam. Ada sensasi yang kurang menyenangkan terjadi saat aku menikmati makanan dan terutama minuman, apapun itu jenisnya. Sensasi yang kurasakan ini mirip rasa ngilu pada gigi berlubang, tapi yang membuatku agak ragu adalah sakitnya tidak permanen seperti gigi berlubang. Diagnosaku sementara adalah di gigiku terdapat gigi berlubang namun lubangnya sangat kecil tetapi agak dalam. Sensasi ngilu yang tak tertahankan tersebut akhirnya memaksaku ke dokter gigi. Aku adalah orang yang jarang ke dokter gigi, bukan karena takut namun karena bosan bertemu dengan orang dengan pekerjaan sebagai dokter gigi. Ya, percayalah, dibesarkan sebagai seorang anak dari seorang dokter gigi takkan membuatmu takut menghadapi seorang dokter gigi, tapi akan membuatmu bosan.

P8072397b

Semua yang mungkin dapat dilakukan oleh seorang dokter gigi terhadap seseorang hampir semuanya pernah kurasakan. Sebut saja, maka akan kujawab ya. Dicabut? Pernah. Ditambal? Pernah. Dikawat? Pernah. Gusi dibedah? Pernah. Gigi dipecahkan hingga pecahannya tersisa di gusi? Pernah juga. Aku sudah cukup makan asam garam dengan dokter gigi, sampai-sampai aku sangat menikmati bau obat steril yang sering tercium di ruangan dokter. Bau obat tersebut membuatku merasa seperti di rumah. Siang ini kuputuskan mengunjungi salah satu rumah sakit gigi dan mulut untuk memeriksa gigiku. Tanpa perlu mengantre lama akhirnya aku diperiksa oleh dokter tersebut. Dokter mencoba memeriksa penyakitku berdasarkan keluhan yang aku utarakan. Hasil pemeriksaan dokter ternyata meleset dari perkiraanku. Setelah diperiksa dengan suatu cairan yang katanya akan menimbulkan rasa ngilu yang luar biasa bila terkena gigi yang berlubang, dokter menyimpulkan bahwa gigiku tidak berlubang, namun hanya mengalami peningkatan sensitivitas, atau yang biasa disebut dengan gigi sensitif. Dokter akhirnya mempersilakanku pulang dengan memberiku saran untuk menyikat gigiku dengan pasta gigi khusus gigi sensitif.

Broken_Heart_by_lucaszoltowski

Masalah sakit gigi ini membuatku teringat pada sebuah lagu lama, lagu yang berasal dari jaman sebelumku. Aku lupa judul lagunya, namun intinya lagu tersebut berusaha membandingkan mana yang lebih sakit, sakit gigi atau sakit hati. Sakit gigi itu sakit, sakit hati juga sakit, namun bedanya adalah sakit hati rasa sakitnya abstrak, tidak nyata. Menurut seorang teman, sakit hati itu adalah sakit yang tidak bisa dirasakan dengan nalar manusia, karena rasa sakitnya sebenarnya tidak ada, namun perasaan sakit itu ada, karena sifatnya yang abstrak tersebut. Terus terang aku sendiri pernah merasakan keduanya, namun bila ada seseorang yang bertanya kepadaku, mana yang lebih sakit, sakit hati atau sakit gigi, jujur sampai sekarang aku masih belum tahu jawabannya. Bagaimana dengan anda?

Pada Akhirnya Aku Tetap Sendiri…

Februari 4, 2009

Aku pada dasarnya adalah seseorang yang suka menyendiri, melakukan aktivitas sendirian, merenung sendirian, dan melakukan segalanya seorang diri. Semua yang bisa kukerjakan sendiri kulakukan seorang diri. Aku adalah seorang single fighter, dan hal tersebut telah terbukti dengan keberhasilanku mempertahankan eksistensiku. Aku memang seorang penyendiri, tapi bukan berarti aku adalah seseorang yang anti sosial. Kehidupan sosialku cukup baik, hal tersebut terbukti dengan keikut sertaanku di beberapa organisasi, kesenanganku nongkrong dengan teman-temanku, serta kegemaranku bertemu dengan orang-orang yang baru. Aku menikmati memperluas jaringan sosialku. Orang tuaku berkata bahwa koneksi yang kuat akan berguna di kemudian hari.

Beberapa orang sudah pernah mencibir kegemaranku menyendiri. Menurut mereka bersosialisasi, entah bagaimana caranya, baik nongkrong di rumah teman, ngobrol tidak jelas juntrungnya di suatu kafe dengan sahabat, atau bahkan dugem, akan terlihat lebih baik. Oke, bersosialisasi itu baik, bahkan saya pribadi menganjurkan hal tersebut, namun apa salahnya menyendiri? Superhero sekelas Superman pun punya tempat baginya untuk menyendiri yang disebut Fortress of Solitude, masakan aku, yang hanya manusia biasa ini tidak boleh menyendiri? Kita mungkin bisa menikmati bergaul dengan teman-teman, ikut suatu acara di komunitas beramai-ramai, curhat berdua dengan teman baik kita, atau malah bermesraan dengan kekasih kita, namun ada kalanya kita tidak bisa menikmati semuanya itu. Teman kita tidak selalu ada di sekitar kita. Sahabat kita, meskipun mereka sering kali ada di dekat kita, memberi kita dorongan, ada kalanya mereka tidak bisa hadir untuk kita. Mereka juga punya kepentingan pribadi, tidak hanya dengan kita saja. Kekasih kita? Mungkin merekalah yang paling dekat dengan kita, kita berbagi cita dan cinta, namun tidak mungkin kita berharap 24 jam mereka selalu ada untuk kita. Mereka juga manusia yang punya banyak kepentingan.

Pada akhirnya, bila entah bagaimana, secara kebetulan mereka semua sedang berhalangan pada saat yang bersamaan, kita akan kembali sendirian. Apa salahnya bila kita untuk menikmati kesendirian kita itu? Toh pada akhirnya kita tetap sendirian.

Indah Pada Waktunya

Februari 4, 2009

Jika memang ini saatnya
Mimpiku akan menjadi nyata
Ku percaya kuatnya cinta
Semuanya akan menjadi indah pada waktunya

Delon – Indah pada Waktunya

Saya sudah sering mendengar kata-kata “Indah pada waktunya”. Kata-kata tersebut menyiratkan keyakinan seseorang bahwa semua masalah yang telah datang bertubi-tubi menimpa dirinya akan membuat dirinya menjadi semakin baik dan indah. Semua hal yang dialami orang akan menjadi suatu proses pembelajaran bagi dirinya dan membuatnya menjadi seseorang yang lebih baik. Seperti cerita sebuah cangkir yang cantik, yang bertransformasi dari seonggok tanah liat.

cangkir yang indah

Tanah liat itu awalnya tidak punya bentuk, lalu datanglah seorang pengerajin tanah liat yang mengambilnya. Tanah liat itu diletakkan di meja penjunan. Di tangan penjunan, tanah liat itu dipukul-pukul, diputar-putar, dan dibentuk. Bila tanah liat tersebut dapat berbicara, saya yakin tanah liat tersebut akan berteriak-teriak kesakitan. Setelah selesai dari meja penjunan, tanah liat itu kemudian dibakar sampai kering. Proses pembuatan cangkir tidak berhenti sampai di situ saja, setelah selesai dibakar, cangkir tersebut kemudian disemprot dengan cat dan pernis. Hal seperti itu mirip yang kita rasakan. Terkadang kita merasa seperti diputar-putar dan dipukul-pukul. Tak jarang juga kita merasa seperti dibakar dan tidak bisa bernafas karena apa yang kita alami, tapi pada akhirnya kita akan seperti cangkir yang cantik tersebut.

Kata-kata “indah pada waktunya” memang sangat mudah untuk diucapkan, namun berapa banyak dari kita yang benar-benar sabar menantikan sampai sesuatu itu menjadi indah pada waktunya? Karena segala sesuatu itu menjadi indah bukan menurut waktu manusia melainkan menurut waktu Tuhan, dan sebagai manusia biasa kita tidak akan pernah tahu kapan waktu Tuhan itu, tapi percayalah bahwa semua itu memang indah pada waktunya.

3 Mei 2008

Mei 3, 2008

Aku duduk termenung di salah satu sudut kamarku berusaha memikirkan hal-hal yang terlintas di benakku. Beberapa hal mengenai kehidupan datang menyapaku dan bila kuingat-ingat lagi, ternyata semua mengarah ke arah yang sama.
Hal yang pertama datang ke benakku adalah saat aku membantu seorang rekan yang sedang mempersiapkan pesta pernikahannya. Dengan tenggang waktu yang sudah sangat mepet, dia berusaha mempersiapkan pesta pernikahannya sendiri. Ya, pesta pernikahannya sendiri, karena dialah yang menikah, dia sendiri yang mengadakan pestanya, dan dia sendiri yang mengundang semua tamunya. Pemberkatan nikah dan pestanya berlangsung dengan sukses mengingat persiapannya yang hanya satu bulan saja.

wedding couple3-saidaonline Hal kedua yang aku ingat adalah mengenai saudara sepupuku yang sedang mengandung anak keduanya. Kehamilannya yang kedua ini terbilang cukup mepet dengan kelahiran anak pertamanya, yaitu hanya berselang dua tahun saja.
Hal ketiga berkaitan dengan kematian. Dalam janji-janji pernikahan selalu dikatakan “sampai maut memisahkan kita”. Ada kerabat seorang temanku yang baru saja menginggal dan aku melihat istrinya, yang sudah dinikahinya selama sekian puluh tahun sehingga sudah menghasilkan beberapa orang cucu, duduk dengan setia di samping peti jenazahnya saat ibadah penghiburan.
Hal ke empat yang kuingat adalah tentang pacaran. Seperti yang kita tahu, pacaran adalah tahapan yang sebaiknya dilalui sebelum melanjutkan ke jenjang pernikahan. Yah, sudah menjadi hal yang lumrah bagi anak muda untuk terlibat dalam hal pacaran, namun kasus yang dialami temanku ini cukup istimewa. Temanku ini memiliki pertimbangan yang cukup panjang untuk meresmikan hubungan sebagai pacar dengan sahabat yang sudah lama ia miliki. Di satu sisi aku menganggap hal ini baik, karena ia ingin benar-benar meyaknikan dirinya bahwa pilihannya sudah sangat tepat dan tidah dibuat dengan terburu-buru atas dasar emosi sesaat, namun di sisi lain aku juga menganggapnya sebagai suatu kebodohan karena ia terlihat seolah-olah tidak berani mengambil langkah maju.
Hal ke lima adalah pertengkaran dalam rumah tangga. Seperti kita ketahui bersama, pernikahan bukanlah sekedar mempersatukan dua hati, melainkan juga mempersatukan dua pikiran. Sering kali pikiran yang seorang tidak sesuai dengan pikiran yang lain. Rekanku tersebut terlibat dalam pertengkaran yang sangat sengit dengan istrinya yang baru dinikahinya beberapa hari sebelumnya. Penyebabnya sepele saja namun siapa yang menyangka bahwa efeknya akan menjadi serumit itu. Yah, misteri perasaan manusia, siapa yang bisa menebak.
Hal ke enam yang menghampiriku adalah soal pernikahan di usia dini. Pada suatu perayaan di gerejaku, aku melihat sepasang suami istri dengan usia yang masih sangat belia dengan kedua orang anak mereka. Usia suami istri tersebut mungkin belum setua diriku, karena mereka menikah di usia yamg masih sangat muda. Konon kabarnya mereka menikah karena kecelakaan. Gosip, bisa jadi benar bisa jadi salah. Hal tersebut juga membuatku termenung dan berpikir, aku tidak ingin seperti mereka. Aku tidak ingin pernikahanku terjadi karena hal-hal yang lain. Andaikata aku harus menikah di usia mudapun, aku ingin semua terjadi secara normal. Di sisi lain aku juga berpikir, keren juga membina rumah tangga di usia dini, asal ditunjang dengan kesiapan hati serta iman, kurasa tidak masalah.
Hal terakhir yang hinggap di pikiranku adalah mengenai sulitnya mempertahankan suatu pernikahan. Semalam aku sedang banyak pikiran sehingga aku pergi ke rental vcd langgananku untuk meminjam vcd. Kepada penjaga rental aku katakan banwa aku hendak mencari film komedi, namun bukan slapstick. Si penjaga rental tersebut akhirnya merekomendasikan satu judul film yang akhirnya aku tonton. Filmnya komedi, namun mengandung pesan yang mendalam. Dikisahkan tentang sekelompok pria pengangguran yang berusaha mencari uang, entah bagaimanapun caranya, sekedar untuk menghidupi keluarganya dan tetap dihargai istrinya. Aku tersentuh menonton film tersebut. Di situ aku sadar, bahwa membina suatu rumah tangga tidaklah semudah yang aku bayangkan selama ini.

wedding-rings2Ya, itulah beberapa hal yang hinggap di pikiranku selama beberapa minggu ini, dan semuanya mengacu ke suatu hal, yaitu institusi yang bernama pernikahan. Terus terang aku agak bingung menyikapi pengalaman yang aku alami ini, namun aku bersyukur karena aku bisa belajar banyak hal sebelum aku harus mengalaminya sendiri.

Selasa, 28 April 2008.

April 28, 2008

Aku masih duduk termenung saja di kantorku yang sepi, semua orang pergi, hanya tinggal aku dan Mas Lucky saja. Aku berusaha mencari hiburan di dunia maya namun apa daya server sedang bermasalah sehingga hubunganku dengan dunia maya menjadi sedikit terganggu. Dari waktu ke waktu hanya tulisan “cannot find server” saja yang aku peroleh. Music jazz yang mengalun lembut dari pemutar MP3ku masih tak bisa menghiburku.

Akhirnya aku memutuskan untuk berdiam diri saja dan merenung, membayangkan masa-masa indah dangan semua orang yang pernah aku alami. Tiba-tiba entah mengapa, pikiranku tersangkut pada suatu kejadian yang baru-baru saja aku alami. Kalau boleh dibilang, kejadian tersebut sebenarnya bukan kejadian yang menyenangkan, bahkan agak membingungkan.

Seorang gadis, sebut saja namanya Fitri, mengucapkan terima kasih atas cinta yang selama ini aku berikan. Sebenarnya aku merasa tersanjung dengan ungkapannya itu, namun masalahnya aku sendiri sampai sekarang belum pernah mengungkapkan perasaan cintaku kepada wanita tersebut. Diriku yang penasaran segera menanyakan maksud dari perkataannya tersebut. Aku ingin mengetahui apa makna tersembunyi di balik pernyataanya tersebut. Aku pernah bertanya langsung kepadanya apa dari maksud dari kata-katanya itu, namun jawabannya hanyalah penyangkalan bahwa ia punya maksud tersembunyi di balik kata-katanya tersebut. Bahkan setelah agak kupaksapun ia masih belum mau mengakui ada apa di balik kata-katanya tersebut.

Mungkin ada beberapa hal di dunia ini ada yang sebaiknya tetap menjadi rahasia, seperti halnya ucapannya kepadaku.

Kamis, 24 April 2008

April 24, 2008

Aku duduk sendiri di salah satu sudut kantorku. Beberapa hal yang hari ini menjadi kewajibanku sudah kuselesaikan dengan baik, namun entah bagaimana dengan hasil akhirnya. Aku masih harus menunggu hingga akhir bulan untuk mengetahui hasilnya, entah bosku akan merasa puas dan tersenyum seraya melihat kertas laporan tersebut ataukah dengan muka sedikit ditekuk sambil menyuruhku merevisi pekerjaan tadi. Sekarang aku berusaha mengisi waktu luangku dengan berusaha memecahkan beberapa pertanyaan yang mengisi setiap relung otakku.

Berbagai pertanyaan datang silih berganti membuatku cukup kebingungan. Pertanyaan yang pertama yaitu pertanyaan mengenai permintaan tolong temanku mengenai kisah asmaranya yang ternyata berhubungan secara tidak langsung dengan kisah asmaraku, sehingga aku sendiri sekarang sedang berada dalam kondisi yang sangat tidak mengenakkan, berada di dalam kisah cinta segi empat. Pertanyaan berikutnya yang muncul di benakku adalah pertanyaan mengenai kisah asmaraku yang sudah lewat. Pertanyaan tersebut muncul kembali saat seorang gadis, sebut saja namanya Putri, yang pernah mempunyai “kisah asmara” atau apalah namanya, berjalan memasuki ruangan kantorku. Ia tampak begitu menawan dengan kaus merah yang dikenakannya. Begitu menggoda, dengan wajahnya yang cukup malu-malu tersebut. Penggalan kisah masa lalu tersebut muncul kembali ke hadapanku, meskipun sudah berkurang intensitasnya bila dibandingkan dengan yang dulu. Mungkin masih ada sepenggal hasratku untuk bersama dengannya namun aku sendiri sekarang seolah tak mengerti apa yang tengah kurasakan. Semua perasaan tersebut campur aduk di dalam hatiku, dan kini perlahan-lahan perasaan tersebut mulai menghilang dari hatiku. Semuanya sudah mulai terasa tawar. Saatnya melanjutkan hidup.