
Raden Ajeng Kartini
21 April biasa diperingati oleh bangsa Indonesia sebagai Hari Kartini. Bagi yang kurang mengenal Kartini, beliau adalah seorang pahlawan wanita kelahiran Jepara, 21 April 1879 yang dikenal sebagai pejuang emansipasi wanita. Menurutnya, wanita layak duduk sederajat dengan pria. Berkat Kartini, wanita Indonesia saat ini bisa merasakan persamaan derajat dengan para pria.
Berbicara masalah emansipasi, ada suatu kejadian beberapa waktu waktu lalu yang cukup menggelitik. Waktu itu di kantor saya sedang diadakan pendekorasian ulang dan kami merombak ulang tata letak perabotan yang ada di kantor. Pada saat memindah-mindahkan meja, dua orang teman wanita saya meminta tolong saya untuk membantu menggeser sebuah meja. Meja itu tidak besar, saya mampu memindahkannya sendirian, jadi saya pikir mereka berdua tidak akan kesulitan memindahkannya, apalagi jaraknya hanya pendek saja. Aku menolaknya secara halus dengan alasan bahwa aku sendiri sedang menggotong sebuah meja. Mereka berusaha membujuk aku lagi, saya kembali menolaknya, dan akhirnya terucaplah kata-kata ini: “Katanya emansipasi wanita, tapi disuruh geser meja aja nggak mau…”.
Mendengar kata-kata itu mereka hanya diam dan merajuk. Terus terang kata-kata tersebut kuucapkan bukan untuk menghina atau memojokkan mereka, tetapi hanya sebagai gurauan. Mengingat kejadian tersebut, saya masih suka tersenyum.
Kejadian tadi juga mengingatkan saya pada suatu kejadian yang dialami oleh dosen saya. Waktu itu Pak Nico, sebut saja demikian, sedang melanjutkan studinya di Australia. Pada suatu kesempatan, beliau pulang agak larut dari perpustakaan dan menemukan mobilnya mogok di tempat parkir. Ia berusaha mencari bantuan, dan bantuan yang didapatkannya adalah seorang petugas keamanan wanita. Setelah mereka tidak berhasil mengutak-atik mobil tersebut selama beberapa saat, mereka akhirnya sepakat untuk mendorong mobil tersebut. Pak Nico, yang berusaha bersikap layaknya seorang laki-laki, mempersilakan wanita tersebut untuk memegang kemudi dan membiarkan dirinya mendorong mobil tersebut. Tawarannya langsung ditolak mentah-mentah oleh wanita tersebut.
“Tidak,” jawabnya, “ini adalah mobilmu, maka kamulah yang seharusnya memegang kemudi, biarkan saya mendorongnya.” Akhirnya Pak Nico menuruti perkataannya. Dari situ beliau sadar, bahwa di Australia, menganggap wanita lebih lemah merupakan suatu pelecehan/harrasment. Wanita tidak mau dianggap lebih lemah dari pria, meskipun itu dalam hal melakukan pekerjaan berat/kasar.
Dari kedua kejadian tersebut saya ingin mencoba membandingkan emansipasi wanita di Indonesia dan di luar negeri. Di luar negeri, emansipasi memang bertujuan menjadikan wanita sederajat dengan pria di segala bidang, baik itu pendidikan, militer, pemerintahan, agama , dan masih banyak lagi, tanpa mengingkari kodrat mereka sebagai seorang wanita. Di Indonesia, menurut pendapat saya, emansipasi masih setengah hati. Wanita memang menginginkan emansipasi namun wanita masih sering menempatkan dirinya di bawah wanita dan sering pula wanita berapologi bahwa dirinya lebih lemah dan berada di bawah pria. Tapi kalau boleh saya ambil contoh yang baik mengenai emansipasi wanita, yaitu ibu saya. Selepas ayah saya meninggal, beliau memang benar-benar mengambil posisi ayah saya, termasih di dalamnya mencari nafkah untuk keluarga, mengecat pagar, memperbaiki pintu, dan urusan pria lainnya sampai saya mampu melakukannya.
Melihat kenyataan di atas, saya jadi bingung sebenarnya emansipasi seperti apakah yang sebenarnya diinginkan oleh wanita Indonesia? Apa definisi mereka mengenai emansipasi? Itu masih menjadi sebuah tanda tanya bagi saya.